Sabtu, 08 Februari 2014

USG

BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang
Ultrasonografi (USG) merupakan suatu prosedur diagnosis yang digunakan untuk melihat struktur jaringan tubuh atau analisis dari gelombang Doppler, yang pemeriksaannya dilakukan diatas permukaan kulit atau diatas rongga tubuh untuk menghasilkan suatu ultrasound didalam jaringan.
Ultrasonografi dapat digunakan untuk endeteksi berbagai kelainan yang ada pada abdomen, otak, kandung kemih, jantung, ginjal, hepar, uterus atau pelvis. Selain itu USG juga dpaat digunakan untuk membedakan antara kista dan tumor. Pada kehamilan cairan amnion dapat menambah refleksi gelombang suara dari plasenta dan fetus sehingga dapat mengidentifikasi ukuran, bentuk dan posisi, kemudian dapat mendeteksi pankreas, limpa, tiroid dan lain-lain.
Persiapan dan pelaksanaan
1.            Lakukan informed consent
2.            Anjurkan untuk puasa makan dan minum 8-12 jam sebelum pemeriksaan USG aorta abdomen, kandung empedu, hepar, limpa dan pankreas.
3.            Oleskan jeli konduktif pada permukaan kulit yang akan dilakukan USG
4.            Transduser dipegang dengan tangan dan gerakkan ke depan dan ke belakang di atas permukaan kulit.
5.            Lakukan anatra 10-30 menit
6.            Premedikasi jarang dilakukan hanya bila pasien dalam keadaan gelisah
7.            Pasien tidak boleh merokok sebelum pemeriksaan untuk mencegah masuknya udara.
8.            Bila pada pemeriksaan obstetrik (trimester pertama dan kedua), pelvis dan ginjal pasien dianjurkan untuk minum 4 gelas air dan tidak boleh berkemih sementara untuk trimester ketiga, pemeriksaan pada pasien dilakukan pada saat kandung kemih kosong.
9.            Bila pada otak lepaskan semua perhiasan dari leher dan jepit rambut dari kepala.
10.        Bila pada jantung anjurkan untuk bernapas perlahan dan menahan setelah inspirasi dalam.

RUMUSAN MASALAH
Dari latarbelakang sebelumnya, maka dapat dirumuskan beberapa rumusan masalah sebagai berikut.
1. Apa pengertian dari USG ?
2. Bagaimana
indikasi pemeriksaan USG ?
3. Bagaimana
persiapan pemeriksaan USG ?
4. Bagaimana teknik pemeriksaan USG  ?

TUJUAN MASALAH
Adapun tujuan penulisan makalah ini berdasarkan rumusan masalah di atas adalah sebagai berikut.
1. untuk mengetahui pengertian USG itu apa.
2. Untuk mengetahui apa saja indikasi permeriksaan USG
3. Untuk mengetahui bagaimana persiapan dalam pemeriksaan USG
4. Untuk mengetahui bagaimana tekhnik pemeriksaan USG







BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Pengertian USG
      Alat yang bekerja dengan prinsip pantulan gelombang suara yang tidak dapat didengar oleh manusia (ultrasound) dan yang dipengaruhi sifat organ atau jaringan tubuh manusia.
      USG merupakan suatu prosedur diagnosis yang digunakan untuk melihat struktur jaringan tubuh atau analisis dari gelombang. Doppler, yang pemeriksaannya dilakukan diatas permukaan kulit atau diatas rongga tubuh untuk menghasilkan suatu ultrasound didalam jaringan.
      Komputer berfungsi menterjemahkan pantulan gelombang suara tersebut kedalam bentuk visual yang mudah diinterpresentasikan oleh dokter. Selain itu juga dapat mengukur gambar yang dibuat sendiri.
      USG merupakan prosedur yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk memidahi perut dan rongga rahim, menghasilkan suatu citra (sonogram) dari janin dan plasenta.
      Jadi dalam hal ini tidak seperti X-Ray (sinar rontgen) yang berbahaya bagi bayi, USG menggunakan gelombang suara yang dipantulkan untuk membentuk gambaran bayi dilayar komputer yang aman untuk bayi dan ibu.


B. Indikasi pemeriksaan USG
Indikasi merupakan salah satu prasyarat penting yang harus dipenuhi sebelum pemeriksaan USG dilakukan. Pemeriksaan USG janganlah dilakukan secara rutin atau setiap melakukan pemeriksaan pasien, terutama bila pasien hamil. Banyak panduan yang telah diterbitkan, misalnya dari AIUM (American Institute of Ultrasound in Medicine). Untuk mempermudah memilah indikasi pemeriksaan, penulis menyarankan pembagian indikasi tersebut atas indikasi obstetri, ginekologi onkologi, endokrinologi reproduksi, dan indikasi non obstetri ginekologi.
Dalam bidang obstetri, indikasi yang dianut adalah melakukan pemeriksaan USG begitu diketahui hamil, penapisan USG pada trimester pertama (kehamilan 10 – 14 minggu), penapisan USG pada kehamilan trimester kedua (18 – 20 minggu), dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan untuk memantau tumbuh kembang janin. Dalam bidang ginekologi onkologi pemeriksaannya diindikasikan bila ditemukan kelainan secara fisik atau dicurigai ada kelainan tetapi pada pemeriksaan fisik tidak jelas adanya kelainan tersebut.
Dalam bidang endokrinologi reproduksi pemeriksaan USG diperlukan untuk mencari kausa gangguan hormon, pemantauan folikel dan terapi infertilitas, dan pemeriksaan pada pasien dengan gangguan haid. Sedangkan indikasi non obstetrik bila kelainan yang dicurigai berasal dari disiplin ilmu lain, misalnya dari bagian pediatri, rujukan pasien dengan kecurigaan metastasis dari organ ginekologi dll. Berikut ini diberikan contoh indikasi yang dikeluarkan oleh NIH 1.
National Institute of Health (NIH), USA (1983 – 1984) menentukan indikasi untuk dilakukannya pemeriksaan USG sebagai berikut :
Menentukan usia gestasi secara lebih tepat pada kasus yang akan menjalani seksio sesarea berencana, induksi persalinan atau pengakhiran kehamilan secara elektif.
Evaluasi pertumbuhan janin, pada pasien yang telah diketahui menderita insufisiensi uteroplasenter, misalnya preeklampsia berat, hipertensi kronik, penyakit ginjal kronik, atau diabetes mellitus berat; atau menderita gangguan nutrisi sehingga dicurigai terjadi pertumbuhan janin terhambat, atau makrosomia.
Perdarahan per vaginam pada kehamilan yang penyebabnya belum diketahui.
Menentukan bagian terendah janin bila pada saat persalinan bagian terendahnya sulit ditentukan atau letak janin masih berubah-ubah pada trimester ketiga akhir.
Kecurigaan adanya kehamilan ganda berdasarkan ditemukannya dua DJJ yang berbeda frekuensinya atau tinggi fundus uteri tidak sesuai dengan usia gestasi, dan atau ada riwayat pemakaian obat-obat pemicu ovulasi.
Membantu tindakan amniosentesis atau biopsi villi koriales.
Perbedaan bermakna antara besar uterus dengan usia gestasi berdasarkan tanggal hari pertama haid terakhir.
Teraba masa pada daerah pelvik.
Kecurigaan adanya mola hidatidosa.
Evaluasi tindakan pengikatan serviks uteri (cervical cerclage).
Suspek kehamilan ektopik.
Pengamatan lanjut letak plasenta pada kasus plasenta praevia.
Alat bantu dalam tindakan khusus, misalnya fetoskopi, transfusi intra uterin, tindakan “shunting”, fertilisasi in vivo, transfer embrio, dan “chorionic villi sampling” (CVS).
Kecurigaan adanya kematian mudigah / janin.
Kecurigaan adanya abnormalitas uterus.
Lokalisasi alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).
Pemantauan perkembangan folikel.
Penilaian profil biofisik janin pada kehamilan diatas 28 minggu.
Observasi pada tindakan intra partum, misalnya versi atau ekstraksi pada janin kedua gemelli, plasenta manual, dll.
Kecurigaan adanya hidramnion atau oligohidramnion.
Kecurigaan terjadinya solusio plasentae.
Alat bantu dalam tindakan versi luar pada presentasi bokong.
Menentukan taksiran berat janin dan atau presentasi janin pada kasus ketuban pecah preterm dan atau persalinan preterm.
Kadar serum alfa feto protein abnormal.
Pengamatan lanjut pada kasus yang dicurigai menderita cacat bawaan.
Riwayat cacat bawaan pada kehamilan sebelumnya.
Pengamatan serial pertumbuhan janin pada kehamilan ganda.
Pemeriksaan janin pada wanita usia lanjut (di atas 35 tahun) yang hamil.
Indikasi dalam pemeriksaan USG ada 5 macam, diantaranya:

1. Indikasi Obstetri
misalnya untuk mengetahui keadaan janin, plasenta, ketuban,kelainan congenital, dll.

2. Indikasi Ginekologi
misalnya kecurigaan terhadap adanya tumor seperti miomauteri, kistoma ovarii, dll3.

3. Indikasi Onkologi

4. Indikasi Endokrinologi dan reproduksi
misalnya untuk melihat keadaan genitaliainterna pada pasien-pasien infertile5.

5. Indikasi Uroginekologi
misalnya untuk memeriksa fistula

C. Persiapan pemeriksaan USG
1. Persiapan Pemeriksaan
Cuci tangan sebelum dan setelah kontak langsung dengan pasien, setelah kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya, dan setelah melepas sarung tangan, telah terbukti dapat mencegah penyebaran infeksi. Epidemi HIV telah menjadikan pencegahan infeksi kembali menjadi perhatian utama, termasuk dalam kegiatan pemeriksaan USG dimana infeksi silang dapat saja terjadi. Kemungkinan penularan infeksi lebih besar pada waktu pemeriiksaan USG transvaginal karena terjadi kontak dengan cairan tubuh dan mukosa vagina.
Resiko penularan dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu tinggi, sedang, dan ringan. Resiko penularan tinggi terjadi pada pemeriksaan USG intervensi (misalnya punksi menembus kulit, membran mukosa atau jaringan lainnya); peralatan yang dipakai memerlukan sterilisasi (misalnya dengan autoklaf atau etilen oksida) dan dipergunakan sekali pakai dibuang.
Resiko penularan sedang terjadi pada pemeriksaan USG yang mengadakan kontak dengan mukosa yang intak, misalnya USG transvaginal; peralatan yang dipakai minimal memerlukan sterilisasi tingkat tinggi (lebih baik bila dilakukan sterilisasi).
Resiko penularan ringan terjadi pada pemeriksaan kontak langsung dengan kulit intak, misalnya USG transabdominal; peralatan yang dipakai cukup dibersihkan dengan alkohol 70% (sudah dapat membunuh bakteri vegetatif, virus mengandung lemak, fungisidal, dan tuberkulosidal) atau dicuci dengan sabun dan air.
Panduan di bawah ini dapat membantu mencegah penyebaran infeksi 1,2 :
(1) Semua jeli yang terdapat pada transduser harus selalu dibersihkan, bisa memakai kain halus atau kertas tissue halus.
(2) Semua peralatan yang terkontaminasi atau mengandung kotoran harus dibersihkan dengan sabun dan air. Perhatikan petunjuk pabrik tentang tatacara membersihkan peralatan USG.
(3) Transduser kemudian dibersihkan dengan alkohol 70% atau direndam selama dua menit dalam larutan yang mengandung sodium hypochlorite (kadar 500 ppm10 dan diganti setiap hari), kemudian dicuci dengan air mengalir dan selanjutnya dikeringkan.
(4) Transduser harus diberi pelapis sebelum dipakai untuk pemeriksaan USG transvaginal, bisa memakai sarung tangan karet, atau kondom.
(5) Pemeriksa harus memakai sarung tangan sekali pakai (tidak steril) pada tangan yang akan membuka labia sebelum transduser vagina dimasukkan. Perhatikan jangan sampai sarung tangan tersebut mengotori peralatan USG dan tempat pemeriksaan.
(6) Setelah melakukan pemeriksaan, sarung tangan harus dimasukkan pada tempat khusus untuk mencegah penyebaran infeksi, dan pemeriksa mencuci tangan.
(7) Pada pemeriksaan USG invasif, persiapan yang dilakukan sama seperti akan melakukan tindakan operasi, misalnya peralatan yang dipakai harus steril, operator mencuci tangan dengan larutan mengandung khlorheksidine 3%, memakai sarung tangan dan masker, serta memakai kacamata. Kulit dibersihkan dengan memakai etil alkohol 70%, isopropil alkohol 60%, khlorheksidin alkohol, atau povidone iodine. Transduser dibersihkan dan dilakukan desinfeksi, kemudian dibungkus dengan plastik khusus yang steril. Membran mukosa vagina dibersihkan dengan larutan yang mengandung khlorheksidin 0,015% ditambah larutan cetrimide 0,15%.
2. Persiapan Alat
Perawatan peralatan yang baik akan membuat hasil pemeriksaan juga tetap baik. Hidupkan peralatan USG sesuai dengan tatacara yang dianjurkan oleh pabrik pembuat peralatan tersebut. Panduan pengoperasian peralatan USG sebaiknya diletakkan di dekat mesin USG, hal ini sangat penting untuk mencegah kerusakan alat akibat ketidaktahuan operator USG.
Perhatikan tegangan listrik pada kamar USG, karena tegangan yang terlalu naik-turun akan membuat peralatan elektronik mudah rusak. Bila perlu pasang stabilisator tegangan listrik dan UPS.
Setiap kali selesai melakukan pemeriksaan USG, bersihkan semua peralatan dengan hati-hati, terutama pada transduser (penjejak) yang mudah rusak. Bersihkan transduser dengan memakai kain yang lembut dan cuci dengan larutan anti kuman yang tidak merusak transduser (informasi ini dapat diperoleh dari setiap pabrik pembuat mesin USG).
Selanjutnya taruh kembali transduser pada tempatnya, rapikan dan bersihkan kabel-kabelnya, jangan sampai terinjak atau terjepit. Setelah semua rapih, tutuplah mesin USG dengan plastik penutupnya. Hal ini penting untuk mencegah mesin USG dari siraman air atau zat kimia lainnya.
Agar alat ini tidak mudah rusak, tentukan seseorang sebagai penanggung jawab pemeliharaan alat tersebut.
c. Persiapan Pasien
Sebelum pasien menjalani pemeriksaan USG, ia sudah harus memperoleh informasi yang cukup mengenai pemeriksaan USG yang akan dijalaninya. Informasi penting yang harus diketahui pasien adalah harapan dari hasil pemeriksaan, cara pemeriksaan (termasuk posisi pasien) dan berapa biaya pemeriksaan.
Caranya dapat dengan memberikan brosur atau leaflet atau bisa juga melalui penjelasan secara langsung oleh dokter sonografer atau sonologist. Sebelum melakukan pemeriksaan USG, pastikan bahwa pasien benar-benar telah mengerti dan memberikan persetujuan untuk dilakukan pemeriksaan USG atas dirinya.
Bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal, tanyakan kembali apakah ia seorang nona atau nyonya ?, jelaskan dan perlihatkan tentang pemakaian kondom yang baru pada setiap pemeriksaan (kondom penting untuk mencegah penularan infeksi).
Pada pemeriksaan USG transrektal, kondom yang dipasang sebanyak dua buah, hal ini penting untuk mencegah penyebaran infeksi.
Terangkan secara benar dan penuh pengertian bahwa USG bukanlah suatu alat yang dapat melihat seluruh tubuh janin atau organ kandungan, hal ini untuk menghindarkan kesalahan harapan dari pasien. Sering terjadi bahwa pasien mengeluh “Kok sudah dikomputer masih juga tidak dikatahui adanya cacat bawaan janin atau ada kista indung telur ?” USG hanyalah salah satu dari alat bantu diagnostik didalam bidang kedokteran. Mungkin saja masih diperlukan pemeriksaan lainnya agar diagnosis kelainan dapat diketahui lebih tepat dan cepat.
d. Persiapan Pemeriksa
Pemeriksa diharapkan memeriksa dengan teliti surat pengajuan pemeriksaan USG, apa indikasinya dan apakah perlu didahulukan karena bersifat darurat gawat, misalnya pasien dengan kecurigaan kehamilan ektopik. Tanyakan apakah ia seorang nyonya atau nona, terutama bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal.
Selanjutnya cocokkan identitas pasien, keluhan klinis dan pemeriksaan fisik yang ada; kemudian berikan penjelasan dan ajukan persetujuan lisan terhadap tindak medik yang akan dilakukan.
Persetujuan tindak medik yang kebanyakan berlaku di Indonesia saat ini hanyalah bersifat persetujuan lisan, kecuali untuk tindakan yang bersifat invasif misalnya kordosintesis atau amniosintesis.
Dimasa mendatang tampaknya pemeriksaan USG memerlukan persetujuan tertulis dari pasien. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk mencegah penularan penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS dan penyakit menular seksual akibat semakin banyaknya seks bebas dan pemakaian NARKOBA.
Pemeriksa diharapkan juga agar selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan cara membaca kembali buku teks atau literatur-literatur mengenai USG, mengikuti pelatihan secara berkala dan mengikuti seminar-seminar atau pertemuan ilmiah lainnya mengenai kemajuan USG mutakhir. Kemampuan diagnostik seorang sonologist sangat ditentukan oleh pengetahuan, pengalaman dan latihan yang dilakukannya.

D. Teknik Pemeriksaan USG
Pemeriksaan USG obstetri dan ginekologi dapat dilakukan melalui cara :
1.      Transabdominal
2.      Transvaginal
3.      Transperineal / translabial
4.      Transrektal / pemeriksaan USG invasive

1.      Pemeriksaan USG Transabdominal
Setelah pasien tidur terlentang, perut bagian bawah ditampakkan dengan batas bawah setinggi tepi atas rambut pubis, batas atas setinggi sternum, dan batas liberal sampai tepi abdomen.
Letakkan kertas tissue besar pada perut bagian bawah dan bagian atas untuk melindungi pakaian wanita tersebut dari jelly yang kita pakai. Taruh jelly secukupnya pada kulit perut kemudian lakukan pemeriksaan secara sistematis.
 (gambar 4.8)
Pertama-tama gerakkan transduser secara longitudinal ke atas dank e bawah, selanjutnya horizontal ke kiri dan ke kanan. Penjejak di gerakkan dari bawah ke atas, di mulai dari garis tengah perut (panah nomor 1), kemudian setelah sampai daerah perut atas transduser di geser ke sisi kanan kemudian di gerakkan ke bawah (panah nomor 2), selanjutnya transduser di geser ke sisi kiri abdomen dan di gerakkan kembali ke arah atas (panah nomor 3).
Selanjutnya gerakan transduser dilakukan kearah lateral kanan secara horizontal dan sistematis (panah no 4), kemudian dari kanan ke arah kiri (panah no 5) dan terakhir dari kiri bawah kearah kanan (panah no 6).
Secara garis besar, ada 4 gerakan dasar transduser pada pemeriksaan USG transabdominal, yaitu bergeser (sliding), berputar (rotating), membentuk sudut (angling) dan ditekan (dipping).

2.      Pemeriksaan USG transvaginal
Pemeriksaan USG transvaginal berbeda dengan transabdominal, perlu penyesuaian mesin dan operator, terutama pengenalan organ genetalia interna dan kehamilan trimester pertama, serta terbatasnya ruang untuk melakukan gerak transduser. Kenali aspek teknik dari transduser , cara-cara melakukan pemeriksaan dan factor keamanan pemeriksaan. USG transvagina memberikan informasi yang lebih akurat dan rinci dari organ atau jaringan di rongga pelvis dibandingkan pemeriksa dalam dan USG trans abdominal.
Pada saat pemeriksaan perhatikan tombol pemindah jenis transduser, apa sudah menunjukkan bahwa transduser yang dipakai adalah vaginal, petunjuk arah kiri dan kana  sudah benar, serta apakan pasien sudah mengosongkan kandung kencingnya. Posisi pasien lithotomi dan pada bagian pantat ditaruh bantal agar mudah untuk memasukkan dan memanipulasi posisi transduser. Pasien sebaiknya ditempatkan pada meja ginekologi agar pemeriksaan lebih baik dan pasien lebih nyaman.
 (gambar meja ginekologi)
Taruh sedikit jelly pada permukaan transduser. Pasangkan kondom baru pada transduser, kemudian beri jelly secukupnya pada permukaan kondom dan selanjutnya masukkan transduser kedalam vagina secara perlahan. Jangan melakukan penekanan tiba-tiba dan keras karena dapat membuat pasien kesakitan. Pemeriksaan USG ini lebih sulit dibandingkan trans abdominal, sehingga pendekatan yang dipakai adalah orientasi terhadap letak dan posisi normal organ genetalia. Gerakan dasar transduser vaginal adalah maju mundur, berputar dan bergeser ke kiri atau ke kanan.
Orientasi pemeriksaan pada layar monitor perlu diketahui standarisasinya. Pada potongan longitudinal, bagian depan sisi perut akan tampak pada sisi kiri layar monitor sedangkan bagian punggung posterior akan tampak pada sisi kanan. Bila potongan transversal sisi kiri pasien akan tampak pada sisi kiri layar mionitor dan sebaliknya.
Bawa transduser sedekat mungkin dengan organ yang akan diperiksa. Pilih frekuensi yang sesuai, atur focus dan perhatikan apa yang dirasakan pasien saat pemeriksaan berlangsung.  Bila gambar tidak jelas, lakukan pemeriksaan bimanual dimana tangan kiri berada di dinding abdomen pasien, kemudian menekan kearah bawah secara perlahan-lahan. Bila masih tidak jelas mungkin perlu pemeriksaan lebih lanjut, misalnya sonohisterigrafi, USG trans abdominalis, CT-scan.
Setelah pemeriksaan selesai, lepaskan kondom secara hati-hati dengan memakai sarung tangan atau kertas tissue, kemudian lakukan dekontaminasi kondom tersebut dengan larutan klorin 0,5 %.
(gambar uterus antefleksi)
Posisi utrus antefleksi, pengukuran longitudinal dilakukan dua tahap. Perhatikan letak fundus uteri yang mendekati vesika urinaria. Pada gambar diperlihatkan posisi uterus retrofleksi, dengan bagian fundus menjauhi vesika urinaria.
(gambar uterus retrofleksi)
Lakukan pengukuran uterus dalam tiga bidang, yaitu longitudinal, transfersal dan anteroposterior. Dalam bidang longitudinal diukur panjang longitudinal uterus dari ostium uteri eksternum hingga fundus uteri melalui pertengahan uterus. Bila bentuk uterus terlalu melengkung maka pengujkuran panjang longitudinal dilakukan dalam dua tahap dan hasilnya dijumlahkan.
Dalam bidang longitudinal juga diukur panjang anteroposterior pada bagian terbesar korpus uteri tegak lurus dengan garis longitudinal. Sedangkan pada bidang transversal diukur diameter transversal uterus dari sisi lateral ke sisi lateral bagian luar setinggi korpus uteri. Bila panjang longitudinal uterus lebih dari 10cm maka ukurannya di luar focus pencitraan dan sebaiknya di ukur melalui USG transabdominalis.
Selanjutnya lakukan evaluasi keadaan endometrium. Dalam keadaan normal, gambaran ekhogenitas dan ketebalan endometrium sesuai fase haid. Tandanya adanya ovulasi adalah kolapsnya dinding folikel dan ada sedikit cairan bebas di kavum douglas. Sedangkan pada masa sekresi, endometrium tampak hiperekoik karena banyak mengandung glikogen, dan adanya korpus luteum.
  1. Pemeriksaan USG Transperineal atau Translabial
Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada keadaan seorang wanita yang tidak mungkin dilakukan pemeriksaan transvaginal / transrektal. Dianjurkan kandung kencing cukup terisi untuk memudahkan pemeriksaan dan sebagai petunjuk anatomis. Penjejak dilapisi kondom dan diberi jelly, kemudian di letakkan di daerah perineum, penjejak di gerakkan ke atas dank e bawah untuk mencari gambaran organ genetalia.
  1. Pemeriksaan USG Transrektal
Pemeriksaan USG transrektal hamper sama dengan pemeriksaan USG transvaginal. Perbedaannya terletak pada bentuk dan ukuran diameter transduser dan posisi pemeriksaan yang kurang lazim bagi wanita Indonesia. Setelah pasien dalam posisi lithotomi, transduser yang telah di bungkus dua lapis kondom dan di bubuhi jelly di masukkan perlahan-lahan ke dalam rectum.
Lakukan identifikasi uterus sebagai petunjuk organ genetalia interna, setelah itu identifikasi vesika urinaria kemudian evaluasi seluruh organ genetalia interna dan rongga pelvik. Pergerakkan transduser per rectal sangat terbatas dan  sering menimbulkan rasa tidak nyaman. Jelaskan sebelum melakukan USG transrektal. Setelah selesai lepaskan kondom kemudian lakukan dekontaminasi kondom.
  1. Pemeriksaan USG Invasif
USG dapat di pakai untuk menegakkan diagnosa dan atau untuk tindakan terapeutik, misalnya biopsi villi koriales, amniosintesis, kordosintesis, ovum pick-up, atau transfuse intra uterin. Setelah memberikan persetujuan tertuis dokter melakukan pemeriksaan USG untuk menilai kondisi genetalia interna. Teknik yang di pakai bisa secara free-hand atau di pandu USG melalui marker pungsi yang ada pada transduser.





BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Pemeriksaan diagnostik adalah penilaian klinis tentang respon individu, keluarga dan komunikan terhadap suatu masalah kesehatan dan proses kehidupan aktual maupun potensial. Hasil suatu pemeriksaan laboratorium sangat penting dalam membantu diagnosa, memantau perjalanan penyakit serta menentukan prognosa. Karena itu perlu diketahui faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium.

SARAN
Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca khususnya perawat dapat menerapkan pengkajian diagnostik ini dalama asuhan keperawatan dan dapat mencari referensi lain untuk menambah pengetahuan pembaca mengenai pengkajian diagnostic




Daftar Pustaka

Endjun, Judi Januadi. (2007). Ultrasonografi Dasar Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Maryunani, anik. (2011). Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan. Jakarta :Trans Info Media
http://latiefpersie.blogspot.com/2012/05/makalah-kebidanan-usg.html

http://joesrhan.blogspot.com/2012/02/makalah-pemerisaan-diagnostik.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar