Sabtu, 08 Februari 2014

cairan dan elektrolit yang lazim digunakan dalam praktek kebidanan

 cairan dan elektrolit yang lazim   digunakan dalam praktek kebidanan

Cairan dan elektrolit sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan atau homeostasis tubuh. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh. Sebab, cairan tubuh kita terdiri atas air yang mengandung partikel-partikel bahan organic dan anorganik yang vital untuk hidup. Elektrolit tubuh mengandung komponen-komponen kimiawi. Elektrolit tubuh ada yang bermuatan positif (kation) dan bermuatan negative (anion). Elektrolit sangat penting pada banyak fungsi tubuh, termasuk fungsi neuromuscular dan keseimbangan asam-basa. Pada fungsi neuromuscular, elektrolit memegang peranan penting terkait dengan transmisi impuls saraf.
Ketika terjadi kehilangan darah, kebutuhan utama yang perlu segera dipenuhi adalah menghentikan perdarahan. Kebutuhan kedua adalah mengganti volume darah yang hilang. Dengan cara ini, sel-sel darah yang tersisa akan tetap mampu mengoksigenasi jaringan tubuh. Darah manusia norma memiliki kapabilitas transpor oksigen yang berlebih secara signifikan, hanya digunakan pada kasus-kasus dengan kerusakan fisik yang hebat. Volume darah yang ada ini dipertahankan oleh volume ekspander,  pasien masih dapat menoleransi kadar Hb yang sangat rendah hingga kadar Hb1/3 orang sehat.
Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.
Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah:
1.               Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
2.               Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
3.               Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
4.               “Serangan panas” (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi)
5.               Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi)
6.               Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh)
7.               Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah
Jenis Cairan Infus:
1.      Cairan hipotonik:
osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel “mengalami” dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.

2.         Cairan Isotonik:
osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).

3.         Cairan hipertonik:
osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga “menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin.

Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:

1.      Kristaloid:
bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis.
2.      Koloid:
ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan steroid.

JENIS-JENIS CAIRAN YANG LAZIM DIGUNAKAN DALAM PRAKTEK KEBIDANAN
1.       Oralit
Indikasi : mencegah dan mengobati dehidrasi pada waktu muntaber, diare, kolera
Nama dagang : pedialyte, Renalylte

2.       Infusan Otsu-NS
Indikasi:
1.   Untuk resusitasi
2.   Kehilangan Na > Cl, misal diare
3.   Sindrom yang berkaitan dengan kehilangan natrium (asidosis diabetikum,
     Insufisiensi adrenokortikal, luka bakar)

3.       Otsu-RL
Indikasi:
1.      Resusitasi
2.      Suplai ion bikarbonat
3.      Asidosis metabolik

4.      Otsu-D5
Komposisi : glukosa = 50 gr/l (5%), 100 gr/l (10%), 200 gr/l (20%).
Indikasi : sebagai cairan resusitasi pada terapi intravena serta untuk keperluan hidrasi selama dan sesudah operasi. Diberikan pada keadaan oliguria ringan sampai sedang (kadar kreatinin kurang dari 25 mg/100ml).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar